Real Food Dianjurkan Saat Berbuka Puasa, Ini Penjelasan Biokimianya

 

Puasa tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga berkaitan dengan proses biologis yang kompleks di dalam tubuh. Saat seseorang berpuasa, sistem pencernaan mendapatkan waktu jeda sehingga tubuh beralih pada mekanisme pengelolaan energi yang lebih efisien.

Dalam kajian biokimia, tubuh manusia memiliki kemampuan yang dikenal sebagai metabolic flexibility atau fleksibilitas metabolisme. Melalui mekanisme ini, tubuh dapat mengubah dan memanfaatkan tiga makronutrien utama, yaitu karbohidrat, lemak, dan protein, sebagai sumber energi sesuai kebutuhan.

Ketika asupan karbohidrat berlebih, tubuh akan mengubah glukosa menjadi cadangan lemak melalui proses lipogenesis. Sebaliknya, saat cadangan glukosa menurun selama puasa, tubuh memanfaatkan lemak sebagai sumber energi melalui proses lipolisis.

Namun, otak membutuhkan pasokan glukosa yang stabil. Untuk menjaga suplai energi tersebut, tubuh melakukan proses glukoneogenesis, yaitu pembentukan glukosa baru dari komponen lain seperti gliserol dari lemak atau asam amino dari protein. Mekanisme ini memastikan fungsi otak tetap berjalan normal meskipun tubuh tidak menerima asupan makanan selama beberapa jam.

Karena itu, pemilihan makanan saat berbuka puasa menjadi faktor penting untuk menjaga keseimbangan metabolisme. Konsumsi makanan ultra-proses atau ultra processed food (UPF) yang tinggi gula rafinasi dapat memicu lonjakan kadar gula darah secara cepat. Kondisi ini memicu peningkatan hormon insulin yang dapat mengganggu keseimbangan metabolisme dan menimbulkan rasa lemas maupun kantuk setelah makan.

Sebagai alternatif, ahli gizi menyarankan konsumsi real food atau makanan utuh alami saat berbuka puasa. Jenis makanan ini umumnya mengandung serat, vitamin, mineral, dan nutrisi alami yang membantu proses penyerapan energi berlangsung lebih stabil.

Beberapa contoh menu berbuka yang dianjurkan antara lain air putih dan kurma untuk mengembalikan energi secara bertahap, air kelapa muda sebagai sumber elektrolit alami, serta sumber karbohidrat kompleks seperti ubi, singkong, atau nasi merah. Protein dari telur, ikan, atau ayam juga diperlukan untuk membantu proses pemulihan sel tubuh.

Menu lain yang juga direkomendasikan adalah kombinasi buah segar seperti pepaya atau semangka dengan kacang hijau, tempe, atau sayuran hijau sebagai sumber serat dan protein nabati. Bagi individu dengan kebutuhan khusus seperti penderita diabetes, pilihan karbohidrat berindeks glikemik rendah seperti nasi merah atau ubi ungu lebih dianjurkan.

Para ahli menilai puasa sebenarnya dapat menjadi momentum bagi tubuh untuk melakukan penyesuaian metabolisme. Namun manfaat tersebut dapat berkurang jika pola makan saat berbuka didominasi makanan tinggi gula dan minim nutrisi.

Dengan memilih makanan alami dan seimbang, proses pemulihan yang terjadi selama puasa dapat tetap terjaga sehingga tubuh tetap sehat dan metabolisme berjalan optimal.