Bekasi dan Ambisi Menjadi Kota Cerdas
Kota Bekasi terus menegaskan langkahnya menuju transformasi sebagai kota cerdas atau smart city. Melalui pemanfaatan teknologi digital dan integrasi berbagai layanan publik, Pemerintah Kota Bekasi berupaya meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat sekaligus memperkuat tata kelola pemerintahan yang lebih efektif dan transparan.
Transformasi ini tercermin dari pengembangan berbagai program yang berada dalam kerangka Bekasi Smart City. Melalui portal resmi smart city, pemerintah kota menampilkan berbagai inovasi dan layanan berbasis teknologi yang dirancang untuk mempermudah akses masyarakat terhadap informasi maupun pelayanan publik.
Konsep smart city di Bekasi mulai digagas secara serius sekitar tahun 2016 pada masa kepemimpinan Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi.
Pada periode tersebut, Pemerintah Kota Bekasi mulai menyusun kerangka pembangunan kota berbasis teknologi informasi sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas pelayanan publik di tengah pertumbuhan kawasan perkotaan yang semakin pesat.
Gagasan ini kemudian diperkuat melalui keterlibatan Bekasi dalam program nasional Gerakan 100 Smart City yang digagas Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Pada fase awal ini, pemerintah kota mulai membangun fondasi smart city melalui penyusunan masterplan, pengembangan berbagai aplikasi layanan publik digital, serta pembangunan Command Center sebagai pusat kendali kota.
Langkah tersebut menjadi titik awal pemanfaatan teknologi informasi dalam tata kelola pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.
Dalam implementasinya, konsep kota cerdas di Bekasi mengacu pada enam pilar utama pembangunan smart city, yaitu smart governance, smart branding, smart economy, smart living, smart society, dan smart environment.
Keenam pilar tersebut menjadi kerangka strategis dalam membangun kota yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas hidup warganya.
Pada aspek smart governance, Pemerintah Kota Bekasi mendorong digitalisasi berbagai layanan publik melalui pengembangan sistem pemerintahan berbasis elektronik. Berbagai layanan administrasi kini diarahkan agar dapat diakses secara daring sehingga masyarakat dapat memperoleh pelayanan secara lebih cepat dan efisien.
Salah satu infrastruktur penting yang mendukung hal tersebut adalah keberadaan pusat kendali kota atau command center yang berfungsi memantau berbagai aktivitas dan layanan pemerintahan secara terintegrasi.
Selain peningkatan sistem layanan, pembangunan infrastruktur digital juga menjadi perhatian. Pemerintah Kota Bekasi mulai melakukan penataan jaringan utilitas melalui pembangunan ducting kabel bawah tanah.
Penataan ini bertujuan memperkuat infrastruktur telekomunikasi sekaligus menata estetika kota dengan mengurangi kabel-kabel udara yang selama ini memenuhi ruang perkotaan.
Di bidang ekonomi, konsep smart economy diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi dan teknologi.
Pemerintah kota berupaya menciptakan ekosistem yang mendukung perkembangan usaha kecil dan menengah, sekaligus membuka peluang ekonomi digital yang semakin berkembang di tengah masyarakat perkotaan.
Sementara itu, pada aspek smart society, peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian. Berbagai program literasi digital, pelatihan teknologi, serta penguatan komunitas inovasi menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang mampu memanfaatkan teknologi secara produktif.
Memasuki masa kepemimpinan Wali Kota Bekasi Tri Adhianto, pengembangan smart city diarahkan pada penguatan implementasi dan integrasi layanan digital.
Jika pada periode sebelumnya fokus utama berada pada pembangunan konsep dan fondasi sistem, pada periode ini perhatian lebih diarahkan pada penghubungan berbagai layanan digital agar dapat berjalan lebih terintegrasi.
Pemerintah Kota Bekasi memperluas digitalisasi layanan di berbagai perangkat daerah, mulai dari administrasi kependudukan, kesehatan, hingga layanan perizinan. Command Center juga terus dimanfaatkan sebagai pusat pemantauan aktivitas kota sekaligus pendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Selain itu, konsep pelayanan publik terintegrasi diperkuat melalui keberadaan Mall Pelayanan Publik yang menghadirkan berbagai layanan pemerintahan dalam satu lokasi. Langkah ini bertujuan mempermudah masyarakat dalam mengakses layanan sekaligus meningkatkan efisiensi birokrasi.
Di sisi lain, pembangunan kota juga mulai melibatkan partisipasi masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan lingkungan, termasuk program pembangunan berbasis wilayah seperti bantuan anggaran bagi tingkat rukun warga. Pendekatan ini sejalan dengan upaya memperkuat dimensi smart society dalam konsep kota cerdas.
Transformasi menuju kota cerdas tentu bukan proses yang selesai dalam waktu singkat. Namun melalui berbagai langkah strategis yang berlangsung dari masa ke masa, Kota Bekasi menunjukkan upaya berkelanjutan untuk memperkuat posisinya sebagai kota modern di kawasan metropolitan Jakarta.
Dengan memanfaatkan teknologi sebagai alat pendukung tata kelola kota, Bekasi berupaya menghadirkan pelayanan publik yang lebih responsif serta kehidupan perkotaan yang semakin berkualitas bagi warganya.

