Andi Hakim Nasoetion, Perintis Sistem Modern Pendidikan Tinggi Indonesia
Nama Andi Hakim Nasoetion mungkin tidak sepopuler tokoh-tokoh nasional lain yang sering muncul dalam buku sejarah. Namun, kontribusinya terhadap sistem pendidikan tinggi di Indonesia sangat besar dan masih dirasakan hingga hari ini.
Hal ini mengemuka dalam kegiatan Halal Bihalal dan Kick Off Yayasan Andi Hakim Nasoetion yang berlangsung di Baranangsiang, Institut Pertanian Bogor (IPB), belum lama ini. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk kembali mengingat dan melanjutkan warisan pemikiran salah satu tokoh pendidikan Indonesia tersebut.
Andi Hakim Nasoetion dikenal sebagai sosok yang berperan besar dalam pembaruan sistem penerimaan mahasiswa baru di Indonesia pada pertengahan 1970-an. Saat menjabat sebagai Rektor IPB, ia melihat adanya ketimpangan antara siswa dari kota besar dan siswa dari daerah dalam sistem seleksi berbasis ujian tulis. Menurutnya, kemampuan akademik tidak bisa diukur hanya dari satu kali ujian, melainkan dari rekam jejak prestasi selama bertahun-tahun di sekolah.
Dari pemikiran tersebut, lahirlah sistem seleksi berbasis prestasi akademik yang saat itu dikenal sebagai Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI), yang kemudian berkembang menjadi Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK), hingga kini dikenal dalam berbagai bentuk jalur seleksi nasional berbasis rapor. Sistem ini membuka peluang lebih luas bagi siswa berprestasi dari daerah untuk mengakses pendidikan tinggi.
Selain itu, Andi Hakim Nasoetion juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam pengembangan sistem Satuan Kredit Semester (SKS), yang memberikan fleksibilitas kepada mahasiswa dalam mengatur beban studi dan masa studi mereka. Sistem ini kemudian menjadi standar dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia.
Secara akademik, Andi Hakim Nasoetion merupakan ahli statistika dan genetika kuantitatif lulusan North Carolina State University, Amerika Serikat. ijuluki sebagai "Bapak Statistika Indonesia". Ia menjabat sebagai Rektor IPB selama dua periode dan dikenal sebagai ilmuwan yang produktif serta aktif menulis artikel sains populer di berbagai media massa nasional.
Melalui tulisan-tulisannya, ia berupaya menjembatani dunia akademik dengan masyarakat luas, dengan bahasa yang mudah dipahami. Hal ini menunjukkan komitmennya agar ilmu pengetahuan dapat diakses dan bermanfaat bagi masyarakat.
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, nama Andi Hakim Nasoetion diabadikan sebagai nama Gedung Rektorat IPB, serta menjadi nama ruas jalan di Bogor dan Mandailing Natal. Warisan pemikiran dan dedikasinya di bidang pendidikan juga menjadi landasan berdirinya Yayasan Andi Hakim Nasoetion, yang bertujuan melanjutkan nilai-nilai dan gagasan beliau dalam pengembangan pendidikan di Indonesia.
Kontribusi Andi Hakim Nasoetion menunjukkan bahwa perubahan besar dalam sebuah bangsa tidak selalu dilakukan melalui perjuangan bersenjata, tetapi juga melalui pemikiran, kebijakan, dan dedikasi dalam membangun sistem pendidikan yang lebih adil dan merata bagi seluruh anak bangsa.
