Dampak WFH ASN terhadap Penghematan BBM


Kebijakan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) yang mulai diterapkan satu hari setiap pekan sebagai bagian dari program penghematan energi nasional dinilai memberikan dampak terhadap penurunan konsumsi bahan bakar minyak (BBM), meskipun skalanya tidak besar secara nasional. Sejumlah analisis ekonomi energi menunjukkan bahwa penghematan BBM dari kebijakan WFH lebih terasa pada level individu dan instansi, namun tidak terlalu signifikan terhadap total konsumsi energi nasional.

Berdasarkan analisis yang dimuat Detik Finance, jika kebijakan WFH diterapkan satu hari dalam satu minggu, maka potensi penghematan BBM nasional diperkirakan berada di kisaran 0,5 hingga 1,5 persen dari total konsumsi BBM nasional. Angka ini relatif kecil karena pekerja sektor perkantoran, termasuk ASN, hanya mencakup sebagian dari total angkatan kerja di Indonesia, sementara konsumsi BBM terbesar tetap berasal dari sektor transportasi logistik, industri, dan mobilitas masyarakat umum.

Namun demikian, pada level ASN dan pekerja kantoran, dampaknya cukup terasa. Media Neraca melaporkan bahwa konsumsi BBM untuk mobilitas pegawai dapat turun hingga sekitar 20 persen pada hari pelaksanaan WFH karena berkurangnya perjalanan dari dan ke kantor. Selain itu, penghematan juga terjadi pada penggunaan listrik dan operasional gedung perkantoran pemerintah.

Sementara itu, laporan CNBC Indonesia menyebutkan bahwa jika kebijakan WFH dilakukan secara konsisten, potensi penghematan BBM masyarakat secara keseluruhan dapat mencapai puluhan triliun rupiah per tahun karena berkurangnya mobilitas harian, terutama di kota-kota besar yang memiliki tingkat kemacetan tinggi.

Dengan demikian, kebijakan WFH ASN dapat dilihat sebagai langkah efisiensi energi yang berdampak moderat. Kebijakan ini bukan solusi utama penghematan BBM nasional, namun tetap memberikan kontribusi terhadap pengurangan konsumsi energi, penghematan anggaran negara, serta penurunan kemacetan dan polusi di kawasan perkotaan.