Rapat diikuti perwakilan PT Wangneng Bekasi Environment Nusantara serta sejumlah kepala perangkat daerah, di antaranya Dinas Lingkungan Hidup, Bina Marga dan Sumber Daya Air, Perkimtan, Distaru, hingga PMPTSP. Seluruh peserta menggunakan bahasa Inggris sebagai bagian dari program “One Day English” yang kini memasuki minggu kedua penerapan.
Tri menyebut, kebijakan ini merupakan upaya membangun kultur kerja yang lebih adaptif sekaligus meningkatkan kapasitas aparatur sipil negara (ASN), terutama dalam menghadapi kerja sama internasional. Menurutnya, kemampuan komunikasi menjadi kunci agar proses perencanaan hingga implementasi proyek berjalan tanpa hambatan.
Di waktu yang sama, Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP) PT Wangneng memaparkan desain fasilitas PSEL di ruang rapat Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi. Paparan tersebut menjelaskan konsep instalasi pengolahan sampah yang terintegrasi dengan pembangkit energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan.
Fasilitas ini dirancang tidak hanya untuk mengolah sampah, tetapi juga menghasilkan energi listrik berkelanjutan. Pemaparan itu menjadi langkah penting untuk menyamakan pemahaman lintas perangkat daerah agar proses pembangunan dapat berjalan efektif.
Pemkot Bekasi menargetkan proyek PSEL menjadi solusi strategis dalam pengelolaan sampah sekaligus mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan. Selain pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia juga terus didorong agar selaras dengan arah transformasi menuju kota yang lebih bersih, modern, dan berdaya saing global.