Kenapa Mikroplastik Baru Ramai Dibahas Sekarang? Ini Penjelasannya

 

BEKASIPATRIOT - Kalau sedang belanja di supermarket atau minimarket, coba perhatikan rak makanan dan minuman di sekitar kita. Hampir semuanya menggunakan kemasan plastik. Dari botol air mineral, bungkus makanan instan, sampai wadah makanan siap saji.

Karena itu banyak orang bertanya, kenapa isu mikroplastik baru ramai dibahas sekarang? Plastik sudah digunakan manusia lebih dari satu abad. Kalau memang berbahaya, kenapa baru jadi perhatian global belakangan ini?

Jawabannya ada pada perkembangan teknologi dan riset ilmiah.

Plastik mulai diproduksi massal sejak awal abad ke-20. Pada 1907, ilmuwan Belgia-Amerika menciptakan Bakelite, plastik sintetis pertama di dunia. Setelah Perang Dunia II, industri plastik berkembang sangat cepat karena dianggap murah, ringan, tahan lama, dan praktis untuk kebutuhan modern.

Pada era 1950-an hingga 1970-an, plastik bahkan menjadi simbol modernitas. Botol kaca mulai diganti plastik PET, kantong plastik sekali pakai bermunculan di mana-mana, dan industri makanan olahan tumbuh pesat bersama perkembangan supermarket modern.

Saat itu, perhatian publik lebih banyak tertuju pada limbah plastik yang mencemari sungai dan laut. Dampaknya terhadap tubuh manusia belum banyak diteliti.

Situasi berubah ketika ilmuwan mulai menemukan bahwa plastik ternyata tidak benar-benar hilang. Plastik hanya hancur menjadi partikel sangat kecil bernama mikroplastik, yaitu serpihan plastik berukuran kurang dari 5 milimeter. Bahkan kini ditemukan nanoplastik yang ukurannya jauh lebih kecil hingga dapat masuk ke jaringan biologis tubuh manusia.

Selama bertahun-tahun, kekhawatiran soal mikroplastik masih dianggap berlebihan karena bukti langsung dampaknya terhadap kesehatan manusia belum cukup kuat. Namun sejak awal 2020-an, berbagai penelitian mulai menunjukkan temuan yang lebih serius.

Mikroplastik ditemukan di darah manusia, paru-paru, plasenta ibu hamil, air susu ibu, hingga jaringan otak. Pada 2024, jurnal mempublikasikan penelitian yang menemukan akumulasi mikroplastik dan nanoplastik pada pembuluh darah pasien aterosklerosis.

Pasien dengan akumulasi partikel lebih tinggi diketahui memiliki risiko lebih besar mengalami serangan jantung dan stroke.

Masalahnya bukan hanya bentuk fisik plastik. Banyak kemasan plastik juga mengandung bahan kimia tambahan seperti BPA, ftalat, dan PFAS yang digunakan agar plastik lebih lentur atau tahan panas. Saat terkena panas atau mengalami degradasi alami, sebagian zat tersebut dapat terlepas.

Berbagai penelitian mengaitkan paparan bahan kimia itu dengan gangguan hormon, penurunan kualitas sperma, obesitas, diabetes, hingga peningkatan risiko kanker tertentu. bahkan menyebut paparan bahan pengganggu hormon sintetis sudah menjadi isu kesehatan global.

Lalu bagaimana mikroplastik masuk ke tubuh manusia?

Jalur paling umum adalah makanan, minuman, dan udara. Air minum kemasan menjadi salah satu sumber yang paling sering dibahas. Penelitian pada 2024 menemukan satu liter air minum kemasan dapat mengandung ratusan ribu partikel nanoplastik.

Selain itu, mikroplastik juga ditemukan pada ikan, kerang, garam, teh celup, madu, hingga debu di dalam ruangan modern.

Meski begitu, para ilmuwan menegaskan bahwa riset soal dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia masih terus berkembang. Ada perbedaan antara “terdeteksi” dengan “terbukti langsung menyebabkan penyakit”.

Karena itu, pendekatan yang digunakan saat ini lebih kepada prinsip kehati-hatian. Misalnya dengan mengurangi kebiasaan memanaskan makanan dalam wadah plastik, mengurangi penggunaan air minum kemasan sekali pakai, serta mulai memakai wadah kaca atau stainless steel.

Dunia modern memang sudah sangat bergantung pada plastik. Karena itu pembahasannya hari ini bukan lagi soal menghapus plastik sepenuhnya, melainkan bagaimana manusia mulai lebih bijak menggunakannya sambil memahami dampak biologisnya bagi kesehatan jangka panjang.